Jumat, 06 April 2018

ADAPTASI PSIKOLOGI IBU MASA NIFAS

Menurut Suherni, 2008 (p.85-90), proses adaptasi psikologi pada seorang ibu sudah dimulai sejak hamil. Wanita hamil akan mengalami perubahan psikologis yang nyata sehingga memerlukan adaptasi. Perubahan mood seperti sering menangis, lekas marah, dan sering sedih atau cepat berubah menjadi senang merupakan manifestasi dari emosi yang labil. Proses adaptasi berbeda-beda antara satu ibu dengan ibu yang lain. Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus dijalani. Tanggung jawab bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir. Dorongan serta perhatian anggota keluarga lainnya merupakan dukungan positif untuk ibu.
Pada masa nifas ibu mengalami stimulasi dan kegembiraan yang luar biasa. Menjalani proses tekanan untuk cepat menyerap pembelajaran yang diperlukan tentang apa yang harus diketahuinya dan perawatan  untuk bayinya. Ibu merasa memiliki tanggung jawab yang luar biasa pada dirinya sebagai ibu. Tidak mengherankan apabila ibu mengalami sedikit perubahan perilaku yang sesekali mengalami kerepotan.
Masa nifas merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi. Tanggung jawab ibu mulai bertambah, reaksi seorang ibu berbeda-beda selama hari-hari pertama melahirkan. Ibu akan selalu melihat ke wajah bayinya, mengamati tubuh, sesekali mengelus pipi bayinya, dan menggoyangkan ekstremitasnya sebelum kembali menatap wajah bayinya. Namun ada ibu yang merasa tidak nyaman dengan bayi baru mereka karena beberapa alasan yang menyebabkannya. Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi dalam masa nifas adalah sebagai berikut :
1.      Fungsi yang memengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi menjadi orang tua.
2.      Respon dan dukungan dari keluarga dan melahirkan sebelumnya.
3.      Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya.
Harapan, keinginan, dan aspirasi ibu saat hamil juga melahirkan

Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah dengan adanya seorang bayi baru lahir. Dorongan serta perhatian anggota keluarga merupakan dukungan positif untuk ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :
1.      Taking in
Terjadi pada hari ke 1 sampai ke 2, fokus perhatian adalah pada diri sendiri, mungkin pasif dan tergantung. Kelelahannya membuat ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur seperti mudah tersinggung. Kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi dengan baik. Pada fase ini perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihan disamping memang nafsu makan ibu saat ini sedang meningkat. Biasanya ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya tetapi bukan berarti ibu tidak memperhatikan. Pada fase ini ibu perlu informasi mengenai bayinya bukan cara merawat bayinya.
Ibu akan berulang kali menceritakan proses persalinan yang dialaminya dari awal sampai akhir. Ibu perlu bicara tentang dirinya sendiri. Ketidaknyamanan fisik yang dialami ibu pada fase ini seperti rasa mules, nyeri pada jahitan, kurang tidur dan kelelahan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Hal tersebut membuat ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah gangguan psikologis yang mungkin 14 dialami, seperti mudah tersinggung, menangis. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif. Pada fase ini petugas kesehatan harus menggunakan pendekatan yang empatik agar ibu dapat melewati fase ini dengan baik.
2.      Taking hold
Terjadi pada hari ke 3 sampai hari ke 10, ada kekhawatiran tidak mampu merawat bayinya. Selain itu, perasaan ibu pada fase ini sangat sensitif sehingga mudah tersinggung jika komunikasi kurang hati-hati. Ibu mulai berusaha mandiri  dan berinisiatif. Perhatian terhadap kemampuan mengatasi fungsi tubuhnya seperti buang air kecil dan buang air besar, melakukan aktivitas duduk, jalan, ingin belajar tentang perawatan diri dan bayi. Sering timbul rasa tidak percaya diri. Oleh karena itu ibu butuh dukungan khususnya suami, dimana pada fase ini merupakan kesempatan terbaik melakukan penyuluhan dalam merawat diri dan bayi sehingga tumbuh rasa percaya diri. Bagi petugas kesehatan pada fase ini merupakan kesempatan yang baik untuk memberikan berbagai penyuluhan dan pendidikan kesehatan yang diperlukan ibu nifas. Tugas kita adalah mengajarkan cara merawat bayi, cara menyusu yang benar, cara merawat luka jahitan, senam nifas, memberikan pendidikan kesehatan yang dibutuhkan ibu seperti gizi, istirahat, kebersihan diri dan lain-lain.
3.      Letting go
Terjadi setelah hari ke 10 post partum. Pada fase ini ibu merasakan bahwa bayinya adalah terpisah dari dirinya. Mendapatkan dan menerima peran dan tanggung jawab baru. Terjadi peningkatan kemandirian dalam merawat diri dan bayinya, penyesuaian dalam hubungan keluarga termasuk bayinya. Fase ini berlangsung setelah sepuluh hari persalinan. Fase-fase adaptasi psikologis pada ibu masa nifas merupakan perubahan perasaan sebagai respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan dan akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peran barunya dan tumbuh kembali pada keadaan normal.
Ibu memahami bahwa bayi butuh disusui sehingga siap terjaga untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan bayinya sudah meningkat pada
fase ini. Ibu akan lebih percaya diri dalam menjalani peran barunya. Pendidikan kesehatan yang kita berikan pada fase sebelumnya akan sangat berguna bagi ibu. Ibu lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan diri dan bayinya. Dukungan suami dan keluarga masih terus diperlukan oleh ibu. Suami dan keluarga dapat membantu merawat bayi, mengerjakan urusan rumah tangga sehingga ibu tidak telalu terbebani. Ibu memerlukan istirahat yang cukup, sehingga mendapatkan kondisi fisik yang bagus untuk dapat merawat bayinya. Walaupun perubahan terjadi sedemikian rupa ibu harusnya tetap menjalani ikatan batin dengan bayinya sejak awal. Hal-hal yang harus dipenuhi selama masa nifas adalah sebagai berikut :
1.      Fisik
Istirahat, asupan gizi dan lingkungan bersih.
2.      Psikologi
Dukungan dari keluarga sangat diperlukan.
3.      Sosial
Perhatian dan rasa kasih sayang menghibur ibu saat sedih dan menemani ibu saat kesepian.
4.      Psikososial
Berinteraksi dengan orang-orang sekitar agar ibu yang sedang dalam masa nifas tidak merasa kesepian.

Kamis, 05 April 2018

MASA NIFAS


Masa nifas disebut juga masa postpartum adalah masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dalam rahim, sampai 6 minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya berkaitan saat melahirkan (Suherni, 2008, p.1).
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2006,p.122). Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu:
1) Perubahan fisik
2) Involusi uterus dan pengeluaran lokhea
3) Laktasi atau pengeluaran air susu ibu
4) Perubahan sistem tubuh lainnya
5) Perubahan psikologi

Rabu, 04 April 2018

PENGAMBILAN SPESIMEN/SAMPEL URIN

Tujuan : sebagai bahan pemeriksaan diagnostik
Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang berbentuk cair dengan karakteristik normal; kuning, jernih, berbau khas, dan dalam pemeriksaan tidak ditemukan mikroorganisme, darah, protein, glukosa dan aseton. Urin secara normal diproduksi oleh tubuh 1200-1200 ml/24 jam (Dewasa), 300-1500 ml/24 jam (anak-anak).
Gangguan produksi urin dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Polyuria/diuresis

  • produksi urin yang berlebihan sampai +- 2500 ml/24 jam. ini terjadi karena :
  1. intake yang berlebihan
  2. minum-minuman yang mengandung caffein dan alkohol
  3. ketidakseimbangan hormon (defisiensi ADH)
  4. penyakit ginjal kronik
2. Oliguri dan anuria

  • oliguri : produksi urin <100-500 ml/24 jam
  • anuria : produksi urin <100 ml/24 jam
  • disebabkan oleh karena intake cairan yang sangat kurang, karena beberapa penyakit ginjal, luka bakar dan shock dana dapat berakibat fatal
Urin akan diambil sebagai spesimen atau sampel laboratorium apabila diperlukan. Beberapa kasus yang biasanya memerlukan sampel urine yaitu diabetes, proteinuria, terdapat gangguan ginjal, dll. Pemeriksaan urin harus dengan prinsip steril, random dan midstream. Pemeriksaan yang sering dipakai adalah pemeriksaan pH, protein ur, glukosa uri, dan kultur.

Selasa, 03 April 2018

PENGAMBILAN SPESIMEN/SAMPEL FESES

Tujuan : sebagai bahan pemeriksaan diagnostik
Feses merupakan hasil sisa metabolisme sistem pencernaan yang dapat berbentuk padat,lembek, dan cair. Pemeriksaan diagnostik feses sangat penting dilakukan pada pasien dengan kasus tertentu. Karakteristik normal dari feses yaitu : lembek, kecoklatan, berbau khas. Pada feses normal tidak akan ditemukan protozoa,cacing,jamur, darah dan urin. sedangkan bajteri sangat mungkin ditemukan pada feses terutama bakteri E. Coli yang merupakan flora normal dari usus besar. Beberapa kasus yang biasanya memerlukan sampel feses yaitu diare, cacingan, dan lain-lain.
Ada beberapa cara pengambilan spesimen feses yaitu :
1. Spesimen berupa feses segar
Cara pengambilan feses segar :

  • pasien diminta untuk berkemih terlebih dahulu
  • feses segar tidak boleh bercampur dengan air kloset maupun urin.
  • feses ditampung pada pot steril bermulut lebar dan berpenutup
  • feses dikeluarkan dan ditampung diatas kertas plastik
  • dengan lidi, ambil banyak feses yang dibutuhkan : feses padat 2-5 gr dan feses cair 10-15 ml
2. Usap rektal
Cara pengambilan secara usap rektal :

  • Diambil dengan kapas lidi sintesis steril pada mukosa rektal dengan kedalaman 1-2 cm
  • Kemudian, masukkan ke dalam tabung steril, tutup rapat
Pengiriman spesimen disertai dengan data/keterangan baik mengenai kriteria spesimen maupun pasien. Ada 2 data yang harus disertakan, yaitu :
1. Botol dilabel dengan menempelkan label pada dinding luar pot. yang berisi data : nama, umur, jenis kelamin, jenis spesimen, jenis tes yang diminta, dan tanggal pengambilan.
2. Formulir/kertas/buku yang berisi data keterangan klinis; dokter yang mengirim, riwayat anamnesis, riwayat pemberian antibiotik terakhir (minimal 3 hari harus dihentikan sebelum pengambilan spesimen), waktu pengambilan spesimen, dan keterangan lebih lanjut mengenai biodata pasien.
Pemeriksaan spesimen ini akan digunakan sebagai pemeriksaan parasitologi untuk memeriksa adanya parasit (cacing/protozoa/jamur)

Senin, 02 April 2018

PENGAMBILAN SPESIMEN ATAU SAMPEL SPUTUM (DAHAK)

Tujuan : sebagai bahan pemeriksaan diagnostik
Pengambilan sampel sputum dilakukan apabila seorang pasien dicurigai mengidap penyakit saluran pernapasan. Penyakit TBC yang diakibatkan oleh bakteri Mycrobacterium tuberculosis sering didapatkan pada pasien yang memiliki tanda dan gejala TBC.
Tata cara menampung sputum/dahak :
1. Pengambilan dahak sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau juga bisa diambil dahak sewaktu juga
2. Sebaiknya dilakukan sebelum pasien menyikat gigi
3. Dianjurkan pasien minum air yang banyak pada malam sebelum pengambilan dahak
4. Pastikan klien bisa membedakan antara dahak dan air liur/saliva ataupun campuran antara dahak dan saliva
5. Kemudian jelaskan cara mengeluarkan dahak
6. Minta pasien untuk berkumur-kumur dengan air dan pasien harus melepas gigi palsu (bila ada) sebelum mengeluarkan dahak
7. Dahak diambil dari batukkan pertama
8. Cara membatukan dahak :

  • Tarik nafas dalam dan kuat (dengan pernafasan dada)
  • Batukkan kuat dahak
  • Wadah penampung berupa pot steril bermulut besar dan berpenutup
  • Pastikan yang dikeluarkan adalah dahak dan bukan. Bila yang dibatukkan adalah air liur atau salive maka pasien harus mengulangi membatukkan dahak
  • Sebaiknya, pilih dahak yang mengandung unsur-unsur khusus seperti butir keju, darah dan unsur-unsur lain.
  • Bila dahak susah keluar, lakukan perawatan mulut. Perawatan mulut dilakukan dengan obat glyseril guayakolat (expectorant) 200 mg atau dengan mengonsumsi air teh manis saat malam sebelum pengambilan dahak
  • Bila dahak juga tidak bisa didahakkan dahak dapat diambil secara : aspirasi transtracheal, bronchial lavage dan lung biopsy

Minggu, 01 April 2018

PENGAMBILAN SPESIMEN/SAMPEL DARAH VENA

Tujuan : Sebagai bahan pemeriksaan diagnostik
Pengumpulan sampel darah (phlebotomy) yaitu proses mengeluarkan darah. Dalam pratek laboratorium, ada 3 macam cara yaitu :
1. Tusukan vena (venipuncture)
2. Tusukan kulit (skinpuncture)
3. Tusukan arteri atau nadi
Contoh pengambilan darah vena umumnya diambil dari vena median cubital, vena chepalica, atau vena basilica. Pengambilan darah pada vena basilica harus dilakukan dengan hati-hati karena letaknya berdekatan dengan arteri brachialis dan syaraf median. Jika vena-vena diatas ternyata tidak bisa digunakan. maka pengambilan darah dapat dilakukan divena didaerah pergelangan tangan. Lakukan pengambilan dengan jarum yang lebih kecil dan sangat hati-hati.
Namun, ada beberapa lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah yaitu :
1. Lengan pada sisi mastectomy (pasca operasi pengangkatan payudara)
2. Daerah edema (bengkak)
3. Hematoma
4. Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
5. Daerah yang terdapat luka atau bekas luka
6. Daerah yang telah terpasang infus
Pengambilan darah vena dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara manual dan cara vakum. Cara manual dilakukan dengan cara menggunakan alat suntik (syring), sedangkan cara vakum dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer)
Alat suntik ini adalah sebuah pompa piston sederhana yang terdiri dari sebuah tabung silinder,pendorong, dan jarum. Pengambilan darah vena secara manual dengan alat suntik harus memperhatikan ukuran jarum. Ukuran jarum : 16G,18G,20G,21G,22G,23G,24G,25G. Vacutainer merupakan jenis tabung yang berupa tabung reaksi yang hampa udara, terbuat dari kaca atau plastik. Ketika tabung dilekatkan pada jarum, darah akan mengalir masuk ke dalam tabung dan berhenti mengalir ketika sejumlah volume tertentu telah tercapai.
Pembendungan pembuluh darah vena dengan tourniket dilakukan agar pembuluh darah tampak jelas dan dengan mudah dapat ditusuk sehingga didapatkan sempel darah. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengambilan darah vena, adalah :
1. Jarum yang digunakan hanya sekali pakai
2. Konsep sterilitas harus benar-benar diterapkan. Dengan menggunakan betadine atau povidone ioudium 10% dan alkohol 70%
3. Pemasangan tourniket

  • pemasangan dalam waktu lama dan terlau keras dapat menyebabkan hemokonsentrasi
  • melepas tournikett sesudah jarum dilepas dapat menyebabkan hematoma
4. Jarum dilepaskan sebelum tabung vakum terisi penuh sehingga mengakibatkan masuknya udara ke dalam tabung dan merusak sel darah
5. Penusukan

  • Penusukan yang tidak sekali kena menyebabkan masuknya cairan jaringan sehingga dapat mengaktifkan pembekuan
  • Tutukan jarum yang tidak tepat benar masuk ke dalam vena menyebabkan darah bocor dengan akibat hematoma
6. Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol menyebabkan hemolisis sampel akibat kontaminasi oleh alkohol, rasa terbakar, dan rasa nyeri yang berlebihan pada pasien ketika dilakukan penusukan.

Sabtu, 31 Maret 2018

KASUS KENAKALAN REMAJA

a.       Heboh aksi mesum pelajar-pelajar di Jawa Timur
Liputan6.com, Jakarta - Sepasang pelajar mesum dikamar ganti sebuah mall di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Aksi mesum itu menunjukkan iktikad mereka dalam menikmati hasrat dan gairah darah muda yang sudah di luar batas kewajaran. Dalam hal ini berhubungan badan tanpa ikatan pernikahan dan melakukannya ditempat umum.
b.      Pelajar di Tangerang dibacok siswa lain saat pulang sekolah
Liputan6.com, Jakarta – Bayu Bahtiar, remaja 18 tahun terpaksa menderita luka bacok di tubuhnya saat dia menunggu angkutan umum atau angkot sepulang sekolah, di Halte Jalan Raya Serang Kampung Balaraja-Kabupaten Tangerang, Banten.
Penganiayaan itu bermula ketika pelajar SMK Korpri 2 Balaraja itu tengah menunggu angkot bersama dua temannya. Tiba-tiba saja mereka dihampiri pelajar dari sekolah lain yang berjumlah sekitar sembilan orang dan mengendari empat sepeda motor.
“Melihat kejadian tersebut, dua teman korban melarikan diri lebih dulu. Sementara korban lari tertinggal paling belakang,” Kata Kapolsek Balaraja Kompol Wiwin Setiawan, Tangerang, Banteng, Selasa (10/1/2017).
Kemudian pelaku berinisial KV turun dari sepeda motor sambil menenteng celurit dan mengejar Bayu yang lari paling belakang. Saat mendekati Bayu, pelajar itu langsung mengayunkan celurit berkali-kali ke tubuh Bayu hingga tersungkur di aspal. “Memastikan korbannya roboh, pelaku langsung kabur dan menghampiri temannya yang sudah menunggu dimotor. Celurit langsung dibuang kesungai Cimanceri sebagai upaya menghilangkan jejak” Tutur Wiwin.
Oleh warga dan teman-temannya, Bayu langsung dibawa kerumah sakit terdekat guna mendapat pertolongan. Sementara KV tertangkap beberapa jam usai melakukan aksi premanisme tersebut. KV terancam pasal 351 penganiayaan. “Ini yang kami sesalkan, sebenarnya Polsek Balaraja sudah melaksanakan langkah preventif atau pencegahan dengan penyuluhan ke sekolah tentang kenakalan remaja dan narkoba,” tutur Wiwin.
c.       Dicyduk usai aniaya siswi SMK karena berebut pacar, pelaku sempat tak mengakui perbuatannya
Para pelaku LZ dan YIZ tega menganiaya korban berinisial WN (16) karena marah dan menduga telah merebut kekasih LZ dari dirinya hingga nekat melakukan aksi tersebut. Keduanya berhasil diamankan Malpolres Metro Tangerang setelah viralnya video tersebut. Saat ditangkap dikediamannya, remaja wanita ini sempat tidak mengakui perbuatannya.
“kedua pelaku sempat tidak mengakui perbuatannya, namun Tim Srikandi Cisadane untuk membujuk untuk ikut ke Polsek dan menjelaskan semuanya,” jelas Kanit Reskrim Polsek Tangerang, Iptu Dikie Wahyudi.
Dari kedua pelaku, petugas juga berhasil mengamankan beberapa barang bukti seperti baju, sendal, celana jeans yang digunakan korban. Dan atas perbuatannya kedua ABG penganiaya terancam jerat UU perlindungan anak dengan ancaman 15 tahun penjara.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari keolmuam dan seni yang mempersiapkan kehamilan,menolong persalinan, nifas dan menyusui, m...