Senin, 07 Mei 2018

Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari keolmuam dan seni yang mempersiapkan kehamilan,menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval, dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir dan balita, fungsi fungsi reproduksi manusia serta memberikan bantuan/dukungqn pada perempuan, keluarga dan komunitasnya.

Sabtu, 05 Mei 2018

PINTU ATAS PANGGUL

Pintu atas panggul merupakan bidang yang dibentuk oleh promotorium korpus vertebra sakrak 1, linea innominata (terminalis) dan pinggir atas simphisis.
Panjang jarak pinggir atas simphisis ke promotorium +- 11cm (conjugata vera). Jarak terjauh garis melintang pada pintu atas panggul +- 12,5 - 13 cm (diameter transversa).

Neonatus

Bayi itu pada umumnya segera menangis sekeluarnya dari jalan lahir. Sebagai sebab-sebab yang menimbulkan pernafasan yang pertama, dikemukakan :
1. Rangsang pada kulit bayi
Walaupun begitu rangsang yang disebabkan oleh forceps atau versi dan ekstraksi tidak menyebabkan bayi bernafas.
2. Tekanan pada thorax sebelum bayi lahir
Didalam jalan lahir dada anak tertekan dan dengan sendirinya akan mengembang setelah anak lahir. Keberatan terhadap teori ini adalah bahwa anak yang dilahirkan dengan sectio sesarea juga segera menangis.
3. Penimvunan CO2
Setelag anak lahir, kadar CO2 dalam darqh anak naik dan ini merupakan rangsang pernafasan
4. Kekurangan O2
Merupakan rangsang pernafasan
5. Pernafasan intrauterine
6. Pemeriksaan bayi

Jumat, 04 Mei 2018

Early Ambulation

Early ambulation adalah kebijakan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidurnya dan membimbingnya selekas mungkin berjalan.
Sekarang tidak dianggap perlu lagi menahan penderita terlentang ditempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan. Penderita sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam postpartum.
Keuntungan :
  1. Penderita merasa lebih sehat dan lebih kuat dengan early ambulation
  2. Faal usus dan kandung kencing lebih baik
  3. Early ambulation memungkinkan kita mengajar ibu memelihara anaknya: memandikan, menggantu pakaian, memberi makan dll selama ibu masih dirumah sakit
  4. Lebih sesuai dengan keadaan Indonesia (sosial ekonomis)
menurut penelitian yang seksama early ambulation tidak mempunyai pengaruh buruk; tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal, tidak mempengaruhi penyembuhan luka episiotomi atau luka diperut, tidak memperbesar kemungkinan prolaps atau retroflexio. Ealry ambukation tentu tidak dibenarkan bagi penderita penyulit, misalnya anemia, penyakit jantung, penyakit paru-paru, demam, dll.

Kamis, 03 Mei 2018

Gangguan / Masalah Kebutuhan Eliminasi Urine

1. Retensi urine
Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih. Hal ini menyebabkan distensi vesika urinaria atau merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap. Dalam keadaan distensi, vesika urinaria dapat menampung urine sebanyak 3000-4000 ml urine.
Tanda klinis retensi :

  1. Ketidak nyaman daerah pubis
  2. Distensi vesika urinaria
  3. Ketidaksanggupan untuk berkemih 
  4. Sering berkemih saat vesika urinaria sedikit urine (25-50ml)
  5. ketidakseinbangan jumlah urine  yang dikeluarkan dengan asupannya
  6. Meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih
  7. Adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandun kemih
Penyebab :
  • Operasi pada daerah abdomen bawah, pelvis vesika urinaria
  • Trauma sumsum tulang belakang 
  • Tekanan uretra yang tinggi karena otot detrusor yang lemah
  • Sphincter yang kuat 
  • Sumbatan (stuktur uretra dan pembesaran kelenjar prostat)
2. Inkontinensia urine
Inkontinensia urine merupakan ketidakmampuan otot sphincter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol ekskresi urine. Secara umum, penyebab dari inkontinensia urine adalah proses penuaan, pembesaran kelenjar prostat, serta penurunan kesadaran, serta penggunaan obat narkotik dan sedatif.
3. Enuresis
Enuresis merupakan ketidaksanggupan menahan kemih (mengompol) yang diakibatkan tidak mampu mengontrol sphincter eksterna. Biasanya, terjadi pada anak atau orang jompo. Umumnya, terjadi pada malam hari (nocturnal enuresis)
4. Perubahan pola eliminasi urine
Perubahan pola eliminasi urine merupakan keadaan seseorang yang mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi anatomia, kerusakan motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih.

Rabu, 02 Mei 2018

KEBUTUHAN ELIMINASI

Kebutuhan Eliminasi terdiri atas dua, yakni eliminasi urine (kebutuhan buang air kecil) dan eliminasi alvi (kebutuhan buang air besar)
Organ yang Berperan dalam Eliminasi Urine
1. Ginjal
Ginjal merupakan organ retroperitoneal (dibelakang selaput perut) yang terdiri atas ginjal sebelah kanan dan kiri tulang punggung. Ginjal berperan sebagai pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh. Ginjal juga menyaring bagian dari darah untuk dibuang dalam ventuk urine sebagai zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh. Bagian ginjal terdiri atas nefron, yang merupakan unit dari struktur ginjal yang berjumlah kurang lebih satu juta nefron. Melalui nefron, urine disalurkan ke dalam bagian pelvis ginjal kemudian disalurkan melalui ureter ke kandung kemih.
2. Kandung Kemih
Kandung kemih merupakan sebuah kantong yang terdiri atas otot halus yang berfungsi sebagai penampung air seni (urine). Dalam kandung kemih terdapat lapisan jaringan otot yang memanjang ditengah dan melingkar disebut sebagai destrusor dan berfungsi untuk mengeluarkan urine.
3. Uretra
Uretra merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar. Fungsi uretra pada wanita mempunyai fungsi berbeda dengan yang terdapat pada pria. Pada pria, uretra digunakan sebagai tempat pengaliran urine dan sistem reproduksi berukuran panjang +- 20 cm uretra pada pria terdiri dari tiga bagian uretra prostatik, membranosa dan kavernosa. Pada wanita, uretra panjang 4-6,5 cm dan hanya berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar tubuh.

Selasa, 01 Mei 2018

OBAT PENGURANG RASA NYERI

Pada beberapa kasus gawat darurat obstetri, penderita dapat mengalami rasa nyeri yang membutuhkan pengobatan segera. dalam memilih obat pengurang rasa nyeri yang tepat, harus dipertimbangkan kondisi pasien pada saat itu, saat danc ara pemberian obat dan beberapa hal khsusu yang harus diperhatikan untuk setiap jenis obat yang dipilih.
kondisi pasien harus dinilai sebelum memilih dan memberikan obat analgetika. pemberian obat sebelum pasien diperiksa akan menyembunyikan gejala seperti nyeri atau demam, yang sangat penting untuk menentukan diagnosis. penderita dalam syok atau akan mengalami pembedahan segera hanya boleh mendapat obat IV atau IM.
hindarilah sedasi berlebihan, sebab dapat menyebabkan pasien tidak mampu menjawab pertanyaan dengan baik. selain itu sedasi berlebihan juga dapat menyembunyikan gejala yang penting untuk menyusun diagnosis. setiap narkotika dapat menekan pernapasan yang mungkin fatal, oleh sebab itu

Senin, 30 April 2018

PRINSIP UMUM DALAM PEMBERIAN OBAT

Dalam memutuskan kapan, apa dan bagaimana menggunakan obat untuk pasien, faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan ialah :

  1. keamanan pasien apabila mendapat obat itu
  2. kebutuhan
  3. cara pemberian obat
Sebelum memberikan obat harus ditanyakan pada pasien apakah pasien pernah mengalami alergi terhadap obat tersebut. jangan sekali-kali memberikan obat per oral kepada pasien dalam keadaan syok. oleh karena pasien dapat muntah dan mungkin dapat terjadi aspirasi ke dalam paru-paru. bagaimana obat itu akan diberikan ,apakah intravena, intamuskular atau peroral harus sudah diputuskan terlebih dahulu sebelum memilih jenis obat, sebab tidak semua jenis obat dapat diberikan melalui ketiga cara tersebut.
  1. Intravena (IV) : pemberian obat intravena dipilih untuk kondisi : syok, setiap kondisi gawat darurat yang mungkin membutuhkan tindakan pembedahan segera, setiap infeksi yang serius termasuk sepsis dan syok septik
  2. Intramuskular (IM) : cara pemberian ini dipilih apabila pemberian IV tidak mungkin dilakukan dan apabila obat yang terpilih dapat diberikan menurut cara ini. Beberapa jenis obat tidak dapat diberikan secara IM
  3. peroral : jangan memberikan obat peroral pada kasus syok, pada kasus dengan cedera intraabdominal, perforasi/ruptura uterus, kehamilan ektopik terganggu, atau kondisi serius lainnya yang memerlukan tindakan bedah segera. pemberian obat peroral hanya dapat diberikan pada kasus yang stabil kondisinya dan mampu menelan obat peroral.

Minggu, 29 April 2018

Prinsip Umum dalam Merujuk Kasus Gawat Darurat Obstetri

Stabilitas Penderita
Dlam memberikan pelayanan kasus gawat darurat yang akan dirujuk, beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain yaitu :

  1. stabilisasi penderita
  2. pemberian oksigen
  3. pemberian cairan infus intravena dan transfusi darah
  4. pemberian obat-obatan (antibiotika, analgetika, dan toksoid tetanus)
Stabilisasi kondisi penderita dan merujuknya dengan cepat dan tepat sangat penting (essensial) dalam menyelamatkan kasus gawat darurat, tidak peduli jenjang atau tingkat pelayanan kesehatan itu. Kemampuan tempat pelayanan kesehatan untuk dengan segera memperoleh transportasi bagi pasien untuk dirujuk ke jenjang yang lebih tinggi amat menentukan dalam menyelamatkan kehidupan kasus yang gawat. Tata cara untuk memperoleh transportasi dengan cepat bagi kasus gawat darurat harus ada disetiap tingkat pelayanan kesehatan. Untuk ini dibutuhkan koordinasi dengan sumber-sumber dalam masyarakat seoerti kepolisian, militer, institusi pemerintah, dinas pertanian, mesjid, gereja, jajaran dinas kesehatan sendiri, dan lain sebagainya. Apabila dimungkinkan, tempat rujukan harus lebih tinggi harus diberitahu bahwa pasien sedang dalam perjalanan menuju kesitu. unsur-unsur pokok dalam stabilisasi kondisi penderita untuk dirujuk adalah :
  1. penanganan pernafasan dan pembebasan jalan nafas
  2. kontrol perdarahan
  3. pemberian cairan infus intravena
  4. kontrol nyeri (meringankan atau menghilangkan rasa nyeri)
Prinsip umum dalam merujuk kasus ialah pasien harus di dampingi oleh tenaga yang terlatih, sehingga cairan infus intravena dan oksigen dapat terus diberikan. Apabila pasien tidak didampingi oleh tenaga terlatih, maka pendamping harus diberi petunjuk bagaimana menangani cairan intravena dalam perjalanan. Dalam perjalanan ke tempat rujukan pasien harus dijaga agar tetap dalam kondisi hangat dan kakinya harus dalam posisi yang lebih tinggi khususnya pada kasus syok perdarahan. Gunakanlah selimut dan jangan memakai sumber panas lain oleh karena kulit pasien mungkin dapat terbakar.
Ringkasan kasus yang harsus disertakan mencakup : 
  1. riwayat penyakit
  2. penilaian kondisi pasien yang dibuat pada saat kasus diterima perujuk
  3. tindakan atau pengobatan yang telah diberikan, misalnya pasien telah mendapat antibiotika penisilin pada jam 16.00
  4. keterangan lain yang perlu dan yang ditemukan berkaitan dengan kondisi pasien pada saat pasien masih dalam penanganan perujuk

Sabtu, 28 April 2018

PELAYANAN KJA/KB

A. Asuhan Antental
Dalam pemeriksaan antenatal diharapkan dapat pula mencakup :
1. penemuan gejala-gejala PMS pada ibu hamil, karena PMS meningkatkan risiko penularan HIV/AIDS , misalnya :

  • urithritis
  • duh tubuh vagina (keputihan)
  • ulkas genetali
  • kubo inquivalis
  • nyeri perut bagian bawah
2. merujuk ibu hamil berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS untuk pemeriksaan lebih lanjut. ibu hamil yang terinfeksi HIV dan memutuskan untuk meneruskan kehamilannya perlu diberi tahu untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
  • kehamilan tidak mempercepat progresivitas penyakit
  • kebersihan diri, istirahat cukup dan makan-makanan yang bergii dapat membantu meningkatkan daya tahan ibu
  • menghindari hal-hal yang dapat menurunkan daya tahan tubuh misalnya kurang istirahat, merokok, atau minum alkohol dan sebagainya
  • merencanakan persalinan di RS
  • merencanakan perawatan bayi yang akan dilahirkan kelak
B. Asuhan Bersalin
Persalinan klien dengan dugaan PMS atau HIV/AIDS  lebih baik dilakukan di RS. Prosedur persalinan yang meningatkan risiko penularan perlu dihindari sedapat mungkin, misalnya :
  • membatasi pemeriksaan dalam
  • waspada kita perlu melakukan pemecahan selaput ketuban
  • menghindari episiotomi, hanya dilakukan atas indikasi
  • menghindari dari pengisapan lendir pada BBL, karena dapat menimbulkan luka pada mulut bayi atau kemungkinan lendir bayi tertelan oleh bidan.
C. Asuhan Nifas
Pemeriksaan dan pemantauan ibu dalam masa nifas bersama bayinya, tidak banyak berbeda seperti biasanya hanya perlu diperhatikan prinsip-pprinsip pencegahan infeksi, tertutama terhadap cairan tubuh, seperti : darah, cairan vagina, urin dan sebagainya. bila keluarga mampu perlu dipertimbangkan untuk tidak memberikan ASI pada bayinya. selanjutnya ibu perlu KB jangka panjang.

Jumat, 27 April 2018

PENYIMPANGAN ETIK BIDAN

Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya baik atau salah (Jones, 1994). Penyimpangan mempunyai konotasi yang negatif yang berhubungan dengan hukum. seorang bidan dikatakan profesional apabila ia mempunyai etika.
Istilah dalam etik

  1. Legislasi adalah ketetapan hukum yang mengatur hak dan kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakan dan pengabdiannya
  2. Lisensi adalah pemberian ijin praktek sebelum diperkenankan melakukan pekerjaan yang telah ditetapkan. Tujuanna untuk membatasi pemberian kewenangan dan untuk meyakinkan klien.
  3. Deontologi/Tugas adalah keputusan yang diambil berdasarkan keterikatan/berhubungan dengan tugas.
  4. Hak adalah keputusan berdasarkan hak seseorang yang tidak dapat diganggu. Hak berbeda dengan keinginan, kebutuhan dan kepuasan.
  5. Instusionist adalah keputusan diambil berdasarkan pengkajian dari dilema etik dari kasus per kasus. 
  6. Benefience adalah keputusan yang diambil harus selalu menguntungkan klien
  7. Mal-eficience adalah keputusan yang diambil merugikan pasien
  8. Malpraktek terjadi karena : ceroboh, lupa dan gagal mengkomunikasikan
  9. Malpraktek/lalai :
  • gagal melakukan tugas/kewajiban kepada klien
  • tidak melaksanakan tugas sesuai dengan standar
  • melakukan tindakan yang mencederai pasien
  • klien cidera karena kegagalan melaksanakan tugas
Contoh kasus :
1. Disebuah desa terpencil seorang ibu yang mengalami perdarahan postpartum setelah melahirkan bayinya yang pertama dirumah. ibu tersebut menolak untuk diberikan suntikn uterotonika. bila ditinjau dari hak pasien atas keputusannya yang menyangkut dirinya maka bidan bisa saja tidak memberikan suntikan karena kemauan pasien. tetapi bidan akan berhadapan dengan masalah yang lebih rumit lagi bila terjjadi perdarahan hebat dan harusnya diupayakan pertolongan untuk merujuk pasien dan yang lebih fatal lagi  bila pasien akhirnya meninggal karena perdarahan. dalam hal ini bidan harus memaksa pasiennya untuk disuntik mungkin itulah keputusan yang harus ia lakukan (deontology)
2. seorang bidan praktek mandiri memberikan vitamin secara rutin hanya karena ingin mencapai bonus yang dijanjikan oleh perusahaan obat (mal-eficience). dalam kasus ini bidan telah memanfaatkan pasiennya sebagai objek untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri,

Rabu, 25 April 2018

Paradigma Kebidanan

Paradigma kebidanan ialah suatu cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan. Keberhasilan pelayanan tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang bidan dalam kaitan atau hubungan timbal balik antara manusia atau wanita, lingkungan, perilakum pelayanan kebidanan dan keturunan.
Uraian paradigma kebidanan tersebut adalah sebagai berikut :
1. wanita
wanita atau manusia adalah makhluk bio-psiko-kultural dan spiritual yang utuh dan unik mempunyai kebutuhan dasar yang bermacam-macam sesuai dengan tingkat perkembangannya. wanita adalah penerus generasi keluarga dan bangsa sehingga keberadaan wanita yang sehat jasmani dan rohani serta sosial sangat diperlukan. wanita adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan atau kondisi dari wanita dalam keluarga. para wanita di masyarakat adalah penggerak dan pelopor dari peningkatan kesejahteraan keluarga.
2. lingkungan
lingkungan merupakan semua yang ada dilingkungan dan terlibat dalam interaksi individu pada waktu melaksanakan aktifitasnya. lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik, psiko sosial, biologis dan budaya. Lingkungan psiko sosial meliputi keluarga, kelompok, komunitas, dan masyarakat. Ibu selalu terlibat dalam interaksi keluarga, kelompok, komunitas maupun masyarakat. masyarakat merupakan sekelompok yang paling penting dan kompleks yang telah dibentuk manusia sebagai lingkungan sosial. masyrakat adalah lingkungan pergaulan hidup manusia yang terdiri dari individu, keluarga, kelompok dan komuniti yang mempunyai tujuan dan sistem nilai, ibu/ wanita merupakan bagian dari anggota keluarga dan unit dari komuniti.
3. Perilaku
perilaku merupakan hasil dari berbagai pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan sikap dan tindakan. perilaku manusia bersifat holistik (menyeluruh). adapun perilaku profesional dari bidan mencakup :

  1. dalam melaksanakan tugasnya berpegang teguh pada filosofi etika profesi dan aspek legal
  2. bertanggungjawab dan mempertanggungjaabkan keputusan klinis yang dibuatnya
  3. senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mutakhir secara berkala
  4. menggunakan cara pencegahan universal untuk mencegah penularan penyakit dan strategi pengendalian infeksi
  5. menggunakan konsultasi dan rujukan yang tepat selama memberikan asuhan kebidanan
  6. menghargai dan memanfaatkan budaya setempat sehubungan dengan praktek kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode pasca persalinan, bayi baru lahir dan anak
  7. menggunakan model kemitraan dalam bekerja sama dengan kaum wanita agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah diinformasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggungjawab atas kesehatannya sendiri
  8. menggunakan keterampilan komunikasi
  9. bekerja sama dengan petugas kesehatan lain untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan keluarga
  10. melakukan advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan
perilaku ibu selama kehamilan akan memengaruhi kehamilannya perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan memengaruhi kesejahteraan ibu dan janin yang dilahirkan, demikian pula perilaku ibu pada masa nifas akan memengaruhi kesehatan ibu dan bayinya.

4. Pelayanan Kebidanan
pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan keseahatan keluarga dalam rangka tercapainya keluarga yang berkualitas. pelayanan kebidanan merupakan layanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya keluara berkualitas, bahagia, dan sejahtera.
sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga dan masyarakat yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan.
layanan kebidanan dapat dibedakan menjadi :

  1. layanan kebidanan primer ialah llayanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggungjawab bidan
  2. layanan kebidanan kolaborasi ialah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan
  3. layanan kebidanan rujukan adalahh layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi.

5. Keturunan
kualitas manusia, diantaranya ditentukan oleh keturunan. manusia yang sehat dilahirkan oleh wanita yang sehat. hal ini menyangkut penyiapan wanita sebelum perkawinan, sebelum kehamilan, masa kehamilan, dan masa nifas

Selasa, 24 April 2018

FALSAFAH KEBIDANAN

Falsafah kebidanan merupakan pandangan hidup atau penuntun bagi bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan. Falsafah kebidanan tersebut adalah :

  1. Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah Indonesia yang merupakan salah satu tenaga pelayanan kesehatan profesional dan secara internasional diakui oleh International Confederation od Midwives (ICM), FIGO dan WHO.
  2. Tugas, tanggung jawab dan kewenangan profesi bidan yang telah diatur dalam beberapa peraturan maupun keputusan Menteri Kesehatan ditujukan dalam rangka membantu program pemerintah bidang kesehatan khususnya ikut dalam rangka menurunkan AKI,AKP,KIA,pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang aman, Pelayanan KB, pelayanan kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya.
  3. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan manusia dan perbedaan budaya. Setiap individu berhak untuk menentukan nasib sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan disegala aspek pemeliharaan kesehatannya.
  4. Bidan meyakini bahwa menstruasi, kehamilan, persalinan dan menopause adalah proses fisiologi dan hanya sebagian kecil yang membutuhkan intervensi medik.
  5. Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal, namun apabila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal.
  6. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu maka setiap wanita subur, ibu hamil, melahirkan dan bayinya berhak mendapatkan pelayanan yang berkualitas.
  7. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga yang membutuhkan persiapan mulai anak menginjak masa remaja.
  8. Kesehatan ibu periode reproduksi dipengaruhi oleh perilaku ibu, lingkungan, dan pelayanan kesehatan.
  9. Intervensi kebidanan bersifat komprehensif mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
  10. Manajemen kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan yang profesional dan interaksi sosial serta azas penelitian dan pengembangan yang dapat melandasi manajemen secara terpadu.
  11. Proses kependidikan kebidanan sebagai upaya pengembangan kepribadian berlangsung sepanjang hidup manusia perlu dikembangkan dan diupayakan untuk berbagi strata masyrakat.


DAFTAR PUSTAKA

  • Sofyan, Mustika. 2006. Bidan Menyongsong Masa Depan. Jakarta : PP IBI

Senin, 23 April 2018

MIDWIFERY?

Midwife is a person who, having been regularly admitted to a midwifery educational program fully recognized in the country in which it is located, has succesfully completed the prescribed course of studies in midwifery and has acquired the requiste qualification to be registered and or legally licensed to practice midwifery.
She must be able to give the necessary supervision, care and advice to women during pregnancy, labor and postpartum, to conduct deliveries on her own responbility and to care for the newborn and the infant. This care includes preventive measures, the detection of abnormal condition in mother and child. The procurement of medical assitance and the execution of emergency measures in the absence of medical help.

ADAPTASI PSIKOLOGI MASA IBU LANSIA DAN MENOPAUSE


2.1 Pengertian Lansia
Wanita sebagai lansia adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologi yang semakin menurun.
Pembagian umur lansia menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) :
1   Usia pertengahan (middle age) 45-49 tahun
2   Lanjut usia (elderly) 60-74 tahun
3   Lanjut usia tua (old) 75-90 tahun
4   Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun
2.2 Adaptasi Psikologi Masa Lansia
Kartono (1992) dalam Kurniati (2009) mengemukakan perubahan-perubahan psikis yang terjadi pada masa menopause akan menimbulkan sikap-sikap yang berbeda antara lain yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simptom-simptom psikologis seperti : depresi, mudah tersinggung, dan mudah menjadi marah dan diliputi banyak kecemasan. Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pensiun; hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan sang lansia tersebut. Berbicara tentang aspek psikolgis lansia dalam pendekatan elektik holistik, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual dalam kehidupan lansia. Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika lansia adalah kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan feminitas karena fungsi reproduksi yang hilang.
            Pada wanita yang menghadapi periode menopause, munculnya simtom-simtom psikologis sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan pada aspek fisik-fisiologis sebagai akibat dari berkurangnya dan berhentinya produksi hormon estrogen. Menopause seperti halnya menarche pada gadis remaja (awal dari masaknya hormon estrogen), remaja ada yang cemas, gelisah tetapi ada juga yang biasa. Pada perempuan yang mengalami menopause keluhan yang sering dirasakan, antara lain : merasa cemas, takut, lekas marah, mudah tersinggung, sulit konsentrasi, gugup, merasa tidak berguna- tidak berharga, stres bahkan ada yang mengalami depresi.
Tetapi apakah semua wanita akan mengalami gangguan psikologis dalam menghadapi menopause. Kenyataannya tidak semua wanita tengah baya mengalami kecemasan, ketakutan bahkan depresi saat menghadapi menopause. Jadi ada juga wanita yang tidak merasakan adanya gangguan pada kondisi psikisnya. Berat ringannya stress yang dialami wanita dalam menghadapi dan mengatasi menopause sangat dipengaruhi sangat dipengaruhi oleh bagaimana penilaiannya terhadap menopause. Penilaian individu terhadap peristiwa yang dialami ada yang negatif ada yang positif.
2.3  Masalah Umum pada Lansia (Hurlock, 1980)
1.      Keadaan fisik lemah dan tak berdaya, sehingga harus tergantung dengan orang lain.
2.      Status ekonominya terancam sehingga cukup beralasan untuk melakukan berbagai perubahan besar pada pola hidupnya.
3.      Menentukan kondisi hidup yang sesuai dengan perubahan status ekonomi dan kondisi fisik.
4.      Mengembangkan kegiatan baru untuk mengisi waktu luang yang semakin bertambah.
5.      Belajar memperlakukan anak yang sudah besar menjadi orang dewasa.
6.      Mulai terlibat dalam kegiatan masyarakat yang secara khusus direncanakan untuk orang dewasa.
2.4  Cara mengatasi gangguan psikologi
1.      Dukungan informatif
a.       Memberikan konseling bahwa berhentinya haid adalah hal yang fisiologis dan akan    dialami oleh semua wanita.
b.      Memberikan nasehat agar wanita tersebut mau dan bisa menerima status.
c.       Memberi nasehat agar dapat menerima keadaannya dengan lapang dada.
d.      Memberikan informasi agar selal mengkomunikasikan setiap masalah atau perubahan yang terjadi kepada suaminya.
2.      Dukungan Emosional
a.       Mempunyai rasa empati terhadap hal yang dialami oleh wanita menopause.
b.      Melibatkan anggota keluarga terutama suami dalam memahami kondisi istrinya.
c.       Memberikan perhatian dan kepedulian kepada wanita tersebut.
d.      Menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman, tenang, harmonis dan saling pengertian.
3.      Dukungan penghargaan
a.       Memberi penghormatan sehingga wanita tersebut merasa dihargai.
b.      Memberi dorongan/support sehingga wanita tersebut bisa percaya diri.
4.      Dukungan instrumental
a.       Memberi bantuan tenaga terhadap apa yang dibutuhkan oleh wanita menopause.
b.      Memberi bantuan materi (yang dilakukan keluarga).
2.5  Aspek-aspek psikologis (Marie Bakburn dan Kate Davidson,1990)
1.      Suasana hati (kesedihan, kecemasan, mudah marah)
2.      Berpikir (hilang konsentrasi, lambat, ragu-ragu)
3.      Motivasi (minat kerja kurang, menekuni hobi, hindari kegiatan sosial, ketergantungan)
4.      Perilaku gelisah dan gerakan yang lamban
5.      Sintom biologis (hilang nafsu makan, hilang hasrat seksual, tidur terganggu, gelisah)Sebab utama wanita lansia Defresi:
a.       Mengingkari dan memprotes proses biologis yang mengarah pada ketuaan.
b.      Menganggap dramatis proses penuaan.
c.       Kemunduran jasmani diartikan sebagai tidak ada gunanya lagi hidup karena sudah mendekati kematian.
2.5 Gangguan psikologis yang terjadi pada masa menopause dan Lansia bisa berupa :
1.      depresi menstrual
Yaitu kepedihan hati dan kekecewaan bahwa wanita menopause kurang lengkap, dan kurang sempurna. Hal ini disebabkan oleh berhentinya fungsi reproduksi. Depresi menstrual timbul dengan interval waktu yang  tetap wanita jadi sangat sulit, banyak menuntut, rewel, gelisah sekali, cerewet, kepikunan mulai tampak, dan lain-lain. Semua gejala tersebut umumnya diiringi suasana hati yang cepat berubah.
Selain itu, wanita tersebut merasa cemas kalau organ reproduksinya mengalami kemunduran/proses devaluasi dalam, fungsinya dan merasakan kekecewaan, kejengkelan dan pengkhianat pahit disebabkan munculnya gejala-gejala kemunduran sehingga dengan segala usaha, wanita menopause berusaha mempertahankan dan melakukan berbagai kegiatan untuk mengawetkan feminitasnya.
Pengalaman-pengalaman tersebut merupakan pertumbuhan diri untuk mengawetkan feminitasnya, sebab utama wanita menopause mengalami suasana hati depresif adalah :
a)      Mengingkari dan memprotes proses biologis yang mengarah pada ketuaan
b)      Terlalu melebih-lebihkan keadaan dirinya
c)      Kemunduran jasmaniah dirasakan sebagai kemungkinan kematian dan tidak ada gans untuk terms hidup
d)     Menganggap hidupnya sudah tidak mengandung harapan, penuh ketelitian agar pribadinya dilupakan oleh semua orang
2.      Ide-ide delirius
Biasanya pada usia menopause, gejala abnormal akan muncul. Gejala tersebut berisikan ide-ide delirius (ide-ide abnormali kegilaan). Kemudian timbal semacam kegairahan seksual yang luar biasa. Pada wanita menopause tersebut tiba-tiba seksualitasnya menjadi membara, sensitif dan lain-lain sehingga untuk memenuhi kebutuhannya wanita tersebut melakukan masturbasi flitoris yang berarti memuaskan diri atau pemenuhan dari kebutuhan seksual dengan merangsang alat kelamin sendiri dengan tangan atau alat-alat mekanik.





BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Wanita sebagai lansia adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai meninggal, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologi yang semakin menurun.
3.2 Kritik dan Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah diatas degan sumber-sumber yang lebih banyak dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan.




DAFTAR PUSTAKA
Eko Suparni. 2016. Menopause Masalah dan Penanganannya. Deepublish  : Yogyakarta
Marmi dan margiyati.2013.pengantar psikologi kebidanan.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Hurlock, E.B. 1990. Psikologi Perkembangan, Suatu Rentang Kehidupan
(terjemahan : Istiwidayanti dan Soedjarwo). Edisi 5. Jakarta : Erlangga.
Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Depkes RI

Minggu, 22 April 2018

Perawatan bedah

Pengertian Perioperasi
Perioperasi merupakan tahapan dalam proses pembedahan yang dimulai prabedah (preoperasi), bedah (intraoperasi) dan pascabedah (postoperasi). Prabedah merupakan masa sebelum dilakukannya tindakan pembedahan, dimulai sejak persiapan pembedahan dan berakhir sampai pasien dimeja bedah. Intrabedah merupakan masa pembedahan yang dimulai sejak transfer ke meja bedah dan berakhir saat pasien dibawa ke ruang pemulihan. Pascabedah merupakan masa setelah dilakukan pembedahan yang dimulai sejak pasien memasuki ruang pemulihan dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya.
JENIS-JENIS PEMBEDAHAN
1. Berdasarkan lokasi : bedah toraks kardiovaskuler, bedah neurologi, bedah ortopedi, bedah urologi, bedah kepala leher, bedah digestif dan lain-lain.
2. Berdasarkan tujuan

  • Pembedahan diagnosis, ditjukan untuk menentukan sebab terjadinya gejala penyakit seperti biopsi, eksplorasi dan laparotomi
  • Pembedahan kuratif, dilakukan untuk mengambil bagian dari penyakit, misalnya pembedahan apendektomi
  • Pembedahan restoratif, dilakukan untuk memperbaoki deformitas, menyambung daerah yang terpisah
  • Pembedahan paliatif, dilakukan untuk mengurangi gejala tanpa menyembuhkan penyakit
  • Pembedahan kosmetik, dilakukan untuk memperbaiki bentuk dalam tubuh seperti rhinoplasti
JENIS-JENIS ANESTESIA
  1. anestesia umum, dilakukan untuk memblok pusat kesadaran otak dengan menghilangkan kesadaran, menimbulkan relaksasi, dan hilangnya rasa. Pada umumnya, metode pemberiannya adalah dengan inhalasi dan inteavena.
  2. Anestesia regional, merupakan anestesia yang dilakukan pada pasien yang masih dalam keadaan sadar untuk meniadakan proses konduktivitas pada ujung atau serabut saraf sensoris dibagian tubuh tertentu, sehingga dapat menyebabkan adanya hilang rasa pada daerah tubuh tersebut. Metode yang digunakan adalah blok saraf, memblok regional intravena dengan torniquet, blok daerah spinal, dan melalui epidural.
  3. Anestesia lokal, merupakan anestesia yang dilakukan untuk memblok transmisi impuls saraf pada daerah yang akan dilakukan anestesia dan pasien dalam keadaan sadar. Metode yang digunakan adalah infiltrasi atau topikal.
  4. Hipoanestesia, merupakan anestesia yang dilakukan untuk membuat status kesadaran menjadi pasif secara artifisial sehingga terjadi peningkatan ketaatan pada saran atau perintah serta untuk mengurangi kesadaran sehingga perhatian menjadi terbatas. Metode yang digunakan adalah hipnotis.
  5. Akupuntur, merupakan anestesi yang dilakukan untuk memblok rangsangan nyeri dengan merabgsang keluarnya endorfin tanpa menghilangkan kesadara. Metode yang banyak digunakan adalah jarum atau penggunaan elektrode pada permukaan kulit.


 DAFTAR PUSTAKA
Uliyah Musrifatul dan Alimul Aziz. 2008. KETERAMPILAN DASAR PRAKTIK KLINIK UNYIK KEBIDANAN. Jakarta : Salemba Medika

Bidan Sebagai Suatu profesi

Bidan sebagai profesi memiliki ciri-ciri tertentu, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat melaksanakan atau mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara profesional.
2. Dalam menjalankan tugasny, bidan memiliki alat yang dinamakan Standar Pelayanan Kebidanan, Kode Etik dan Etika Kebidanan.
3. Bidan memiliki kelompok pengetahuan yang jelas dalam menjalankan profesinya
4. Memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya (Permenkes No 572 Tahun 1996)
5. Memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
6. Memiliki wadah organisasi profesi
7. Memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan masyarakat
8. Menjadikan bidan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama kehidupan.
Bidan sebagai profesi telah memiliki karakteristik profesi.



Sumber : Buku IBI Bidan menyongsong Masa Depan

Sabtu, 21 April 2018

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI

1. Pengetahuan
Rendahnya pengetahuan tentang manfaat makanan bergizi dapat memengaruhi pola konsumsi makan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya informasi, sehingga dapat terjadi kesalahan dalam pemenuhan kebutuhan gizi.
2. Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan yang bernilai gizi tinggi, dapat mempengaruhi status gizi seseorang. Misalnya, dibeberapa daerah tempe yang merupakan sumber protein yang baik dan murah, tetapi tidak digunakan sebagai makanan sehari-hari karena masyrakat menganggap bahwa mengonsumsi tempe dapat merendahkan derajat mereka.
3. Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap makanan tertentu dapat juga memengaruhi status gizi. Misalnya  dibeberapa daerah terdapat larangan makan pisang dan pepaya bagi para gadis remaja. Padahal makanan itu merupakan sumber vitamin yang baik. Ada pula larangan makanan ikan bagi anak-anak karena ikan dianggap dapat mengakibatkan cacingan. Padahal ikan merupakan sumber protein yang sangat baik bagi anak-anak.
4. Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat mengakibatkan kurangnya variasi makanan, sehingga tu ug tidak memperoleh zat-zat gozi yang dibutuhkan secara cukup. Kesukaan dapat mengakibatkan banyak terjadi kasus malnutrisi pada remaja karena asupan gizinya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tuvuh.
5. Ekonomi
Status ekonomi dapat memengaruhi perubahan status gizi. Penyediaan makanan bergizi membutuhkan dana yang tidak sedikit, sehingga perubahan status gizi dipengaruhi oleh status ekonomi. Dengan kata lain, orang dengan status ekonomi kurang biasanya kesulitan dalam penyediaan makanan bergizi. Sebaliknya, orang dengan status ekonomi cukup lebih mudah untuk menyediakan makanan yang bergizi.


Sumber : Buku Keterampilan Dasar praktik klinik untuk kebidanan.

Kelainan Jadual Menopause

Menopause bisa terjadi secara alamiah atau sebagai akibat pembedahan atau penyinaran. Berhentinya haid karena operasi terjadi apabila uterus diangkat. Pengangkatan ovarium kadang-kadang dilakukan karena penyakit ovarium, akan tetai lebih sering jika dilakukan histerektomi untuk suatu sebab, dan ovarium sekalian di angkat sebagai tindakan prefentif terhadap karsinoma ovarii.
Tindakan terakhir ini masih kontroversial jika dilakukan pada wanita sebelum menopause, tetapi umumnya dibenarkan pada wanita pascamenopause. Menopause buatan umumnya menimbulkan gejala seperti digambarkan diatas, tetapi lebih sering dan lebih keras dibandingkan dengan menopause alamiah.
1. Menopause prematur
Seperti telah diuraikan, umumnya batas terendah terjadinya menopause ialah umur 44 tahun. Menopause yang terjadi sebelum 40 tahun, dapat dinamakan menopause prematur.
Diagnosis menopause prematur tidak sukar dibuat, apabila penghentian haid sebelum waktunya disertai dengan hot flushes serta meningkatnya kadar hormon gonadotropin. Apabila kedua gejala yang terakhir ini tidak ada, perlu dilakukan penyelidikan terhadap sebab-sebab lain dari terganggunya fungsi ovarium.
Faktor yang dapat menyebabkan menopause prematur ialah heriditer, gangguan gizi yang cukup berat, penyakit menahun, dan penyakit yang merusak jaringan kedua ovaroum. Menopause prematur tidak memerlukan terapi, kecuali pemberian penerangan kepada wanita yang bersangkutan.
2. Menopause terlambat
Batas terjadinya menopause umumnya ialah umur 52 tahun. Apabila seorang wanita masih mendapat haid diatas umur 52 tahun, maka hal itu merupakan indikasi untuk penyelidikan lebih lanjut. Sebab-sebab yang dapat dihubungkan dengan menopause terlambat ialah :

  • Konstitusional
  • Fibromioma uteti
  • Tumor ovarium yang menghasilkan estrogen
Menurut novak, wanita dengan karsinoma endometrium sering dalam anamnesis mengemukakan menopause nya terlambat.

Variasi Seksual dalam Batas-Batas Normal

1. Manipulasi klitoris dengan jari
Telah disebut diatas bahwa rangsangan klitoris dengan jari-jari pria sebelum dan sesudah wanita mencapai orgasme dianggap normal, termasuk beberapa variasi dalam pelaksanaan siklus seksual.
2. Manipulasi urogenital
Ada beberapa pria yang suka dan merasa lebih terangsang apabila wanita pasangannya mempermainkan alat kelaminnya dengan mulut, bibir, dan lidah, disertai dengan gigitan ringan. Manipulasi ini dinamakan fellasio.
Sebaliknya si pria dapat merangsang alat kelamin pasabgannya dengan bibir dan lidah, yang disebut kunnilinksio. Kedua cara manipulasi urogenital ini dapat dilakukan serentak oleh kedua pasangan. Membentuk angka 69.
Baik fellasio maupun kunnilinksio masih dianggap batas nornal sebagai variasi dari rangsangan seksual diantara berbagai bangsa, misal Asia Timur, akan tetapi di anggap sebagai pervesitas di negara Anglo-Saks.
3. Masturbasi (onani)
Pemuasan sendiri secara seksual tanpa koitus, biasanya dengan tangan atau benda lain. Sering dilakukan oleh anak-anak dan muda-mudi dalam perkembangan fisik dan psikoseksualnya. Juga orang dewasa dalam keadaan tertentu, biasanya abtinensi dapat melakukan masturbasi sebagai penyaluran nafsu syahwat. Apabila perbuatan itu sifatnya sementara dan tidak disebabkan oleh gangguan perkembangan psikoseksual, maka itu masih dapat dianggap sebagai dalam batas normal. Frekuensi masturbasi kira-kira 60% diantara para gadis dan 95% diantara para pemuda.
Penyimpangan ini tidak disebabkan oleh kelainan psikis, akan tetapi sebaliknya kadang dapat menimbulkan konflik emosional dikemudian hari, karena yang bersangkutan merasa berbuat salah dan merasa dosa. Penyuluhan yang bijaksana dapat menghindari atau menghilangkan konflik emosional demikian.
4. Homoseksualitas
Istilah ini dipakai untuk hubungan seksual antara dua orang pria. Cara pemuasan seksual yaitu ditujukan pada rangsangan penis untuk mencapai ejakulasi dan orgasme.
5. Lesbianisme
Lesbianisme dilakukan oleh pasangan wanita dengan wanita. Dalam batas tertentu tidak dianggap sebagai deviasi seksual, misalnya yang dilakukan di asrama putri atau dirumah penjara karena keadaan yang mendorong pelaku berbuat demikian. Mereka dapat digolongkan pada golongan lesbiaan fasif.




Sumber : Sarwono Prawirohardjo. 2008. Ilmu kandungan. Jakarta  : PT bina pustaka

Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Kebidanan adalah satu bidang ilmu yang mempelajari keolmuam dan seni yang mempersiapkan kehamilan,menolong persalinan, nifas dan menyusui, m...